| (Fety Kristiani) |
Bukan lagi suatu hal yang aneh jika kita melihat
anak-anak di daerah perkotaan yang cenderung menyepelekan pendidikan. Sering
kali semua kenikmatan yang dengan mudah didapatkan membuat mereka seakan lupa
akan tanggung jawab mereka yang sebenarnya. Mereka seakan tidak peduli pada suatu
kenyaataan bahwa di luar sana banyak sekali anak lain yang ingin menikmati
kesempatan untuk mengenyam pendidikan seperti mereka. Dan hal itu pun yang
terjadi pada saya.
Sedikit berbagi cerita, saya
memiliki keluarga di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ayah saya seringkali
membandingkan keadaan saya dengan anak-anak yang ada di sana. Ayah saya sering
berkata bahwa kehidupan saya di Jakarta begitu beruntung, tidak seperti keluarga
saya atau bahkan anak-anak lain di NTT. Di sini saya bisa dengan mudah
bersekolah, tanpa harus naik turun gunung. Saya juga bisa dengan mudah mendapat
uang jajan sebesar dua puluh ribu rupiah per hari, yang nominalnya sama dengan
uang sekolah mereka selama sebulan. Tidak hanya itu, saya juga bisa menggunakan
seragam baru disetiap pergantian tahun ajaran, sedangkan anak-anak di NTT harus
menggunakan seragam mereka mulai dari mereka masuk sekolah hingga lulus.
Awalnya saya tidak terlalu peduli
akan cerita ayah saya, walaupun ayah saya selalu mengulang cerita tersebut hampir
setiap hari. Seperti yang saya sudah tuliskan sebelumnya, kenikmatan yang bisa
dengan mudah saya dapatkan membuat saya tidak peduli pada keadaan orang lain
yang kurang beruntung dibanding saya. Saya lebih memilih untuk bersikap tidak
peduli dan berusaha menutup mata akan betapa menyedihkannya keadaan mereka.
Namun seiring berjalannya waktu,
saya mulai menyadari bahwa cara berpikir saya itu salah dan saya pun mulai
belajar untuk memperbaikinya. Saya mencoba memulainya dari dalam diri sendiri, dengan
mengubah sikap acuh saya terhadap pendidikan. Saya belajar untuk lebih
menghargai kesempatan saya untuk bersekolah dengan tidak bermalas-malasan lagi.
Mungkin usaha saya yang satu ini tidak berdampak secara langsung. Namun saya
yakin, secara tidak langsung juga saya sedang berhenti menghina anak-anak yang
kurang beruntung di NTT atau bahkan di daerah lain.
Usaha saya tidak berhenti sampai
disitu. Saya mau berdampak secara langsung bagi anak-anak di NTT. Tapi saya
tahu betul bahwa saya tidak bisa melakukannya sendiri. Jadi, saya mulai mengajak teman-teman saya
untuk mengumpulkan baju-baju bekas yang masih layak pakai untuk dikirimkan ke
NTT. Baju tersebut meliputi seragam dan baju untuk dipakai sehari-hari. Dan pada
tanggal 24 Juli kemarin, baju-baju tersebut sudah dikirimkan melalui paman saya
yang hendak ke NTT.
![]() |
| (contoh sticker) |
Selain mengumpulan baju-baju bekas,
saya dan seorang teman juga berpikir untuk memanfaatkan teeknologi yang ada.
Kami berusaha membuat inovasi baru dalam mengumpulkan dana bantuan untuk
anak-anak yang kurang beruntung di NTT. Sebuah inovasi dimana semua anak muda
dapat ikut serta membantu dengan cara yang sederhana namun tetap kekinian. Kami
membuat sebuah project sticker LINE yang rencananya akan segera publish sekitar
akhir bulan September (jika tidak ada
halangan). Dan hasil penjualannya nanti akan kami kirimkan agar bisa digunakan
untuk membayar uang sekolah mereka.
Melalui tulisan saya ini, saya
mengajak teman-teman untuk ikut berpartisipasi. Dengan cara apa? Dengan cara
sederhana yang saya sudah pernah lakukan sebelumnya. Dengan cara lebih
menghargai kesempatan yang teman-teman miliki. Teman-teman bisa memulainya
dengan lebih rajin ke sekolah dan mengikuti setiap pelajaran yang ada dengan
sebaik-baiknya. Dan jika teman-teman tergerak, kalian bisa ikut melakukan aksi
nyatanya bersama saya dan teman-teman lain yang sudah bergabung bersama saya.
Mungkin sebagian dari teman-teman yang
membaca tulisan saya ini akan berpikir, mengubah keadaan mereka bukanlah
tanggung jawab kalian. Namun saya mau mengatakan, bahwa tidak ada ruginya
menghargai orang-orang yang kurang beruntung dibanding kita. Dan tidak ada
salahnya memberi sedikit kebahagiaan kita kepada mereka dengan sebuah aksi
nyata. Sebab tanpa kita sadari, ketika kita memberi Tuhan pasti akan membalas
berlipat ganda.
“Hiduplah Untuk Memberi yang Sebanyak-banyaknya, Bukan untuk Menerima
yang Sebanyak-banyaknya”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar