Minggu, 31 Juli 2016

BERBAGI KEBERUNTUNGAN

(Fety Kristiani)
          Bukan lagi suatu hal yang aneh jika kita melihat anak-anak di daerah perkotaan yang cenderung menyepelekan pendidikan. Sering kali semua kenikmatan yang dengan mudah didapatkan membuat mereka seakan lupa akan tanggung jawab mereka yang sebenarnya. Mereka seakan tidak peduli pada suatu kenyaataan bahwa di luar sana banyak sekali anak lain yang ingin menikmati kesempatan untuk mengenyam pendidikan seperti mereka. Dan hal itu pun yang terjadi pada saya.
            Sedikit berbagi cerita, saya memiliki keluarga di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ayah saya seringkali membandingkan keadaan saya dengan anak-anak yang ada di sana. Ayah saya sering berkata bahwa kehidupan saya di Jakarta begitu beruntung, tidak seperti keluarga saya atau bahkan anak-anak lain di NTT. Di sini saya bisa dengan mudah bersekolah, tanpa harus naik turun gunung. Saya juga bisa dengan mudah mendapat uang jajan sebesar dua puluh ribu rupiah per hari, yang nominalnya sama dengan uang sekolah mereka selama sebulan. Tidak hanya itu, saya juga bisa menggunakan seragam baru disetiap pergantian tahun ajaran, sedangkan anak-anak di NTT harus menggunakan seragam mereka mulai dari mereka masuk sekolah hingga lulus.
            Awalnya saya tidak terlalu peduli akan cerita ayah saya, walaupun ayah saya selalu mengulang cerita tersebut hampir setiap hari. Seperti yang saya sudah tuliskan sebelumnya, kenikmatan yang bisa dengan mudah saya dapatkan membuat saya tidak peduli pada keadaan orang lain yang kurang beruntung dibanding saya. Saya lebih memilih untuk bersikap tidak peduli dan berusaha menutup mata akan betapa menyedihkannya keadaan mereka.
            Namun seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa cara berpikir saya itu salah dan saya pun mulai belajar untuk memperbaikinya. Saya mencoba memulainya dari dalam diri sendiri, dengan mengubah sikap acuh saya terhadap pendidikan. Saya belajar untuk lebih menghargai kesempatan saya untuk bersekolah dengan tidak bermalas-malasan lagi. Mungkin usaha saya yang satu ini tidak berdampak secara langsung. Namun saya yakin, secara tidak langsung juga saya sedang berhenti menghina anak-anak yang kurang beruntung di NTT atau bahkan di daerah lain.
            Usaha saya tidak berhenti sampai disitu. Saya mau berdampak secara langsung bagi anak-anak di NTT. Tapi saya tahu betul bahwa saya tidak bisa melakukannya sendiri.  Jadi, saya mulai mengajak teman-teman saya untuk mengumpulkan baju-baju bekas yang masih layak pakai untuk dikirimkan ke NTT. Baju tersebut meliputi seragam dan baju untuk dipakai sehari-hari. Dan pada tanggal 24 Juli kemarin, baju-baju tersebut sudah dikirimkan melalui paman saya yang hendak ke NTT.
(contoh sticker)
            Selain mengumpulan baju-baju bekas, saya dan seorang teman juga berpikir untuk memanfaatkan teeknologi yang ada. Kami berusaha membuat inovasi baru dalam mengumpulkan dana bantuan untuk anak-anak yang kurang beruntung di NTT. Sebuah inovasi dimana semua anak muda dapat ikut serta membantu dengan cara yang sederhana namun tetap kekinian. Kami membuat sebuah project sticker LINE yang rencananya akan segera publish sekitar akhir bulan September (jika tidak ada halangan). Dan hasil penjualannya nanti akan kami kirimkan agar bisa digunakan untuk membayar uang sekolah mereka.
            Melalui tulisan saya ini, saya mengajak teman-teman untuk ikut berpartisipasi. Dengan cara apa? Dengan cara sederhana yang saya sudah pernah lakukan sebelumnya. Dengan cara lebih menghargai kesempatan yang teman-teman miliki. Teman-teman bisa memulainya dengan lebih rajin ke sekolah dan mengikuti setiap pelajaran yang ada dengan sebaik-baiknya. Dan jika teman-teman tergerak, kalian bisa ikut melakukan aksi nyatanya bersama saya dan teman-teman lain yang sudah bergabung bersama saya.
            Mungkin sebagian dari teman-teman yang membaca tulisan saya ini akan berpikir, mengubah keadaan mereka bukanlah tanggung jawab kalian. Namun saya mau mengatakan, bahwa tidak ada ruginya menghargai orang-orang yang kurang beruntung dibanding kita. Dan tidak ada salahnya memberi sedikit kebahagiaan kita kepada mereka dengan sebuah aksi nyata. Sebab tanpa kita sadari, ketika kita memberi Tuhan pasti akan membalas berlipat ganda.


“Hiduplah Untuk Memberi yang Sebanyak-banyaknya, Bukan untuk Menerima yang Sebanyak-banyaknya”